platonis
tiba-tiba saja aku teringat pada kata platonis. yep, cinta platonis. sebuah kata yang mula-mula muncul entah dari mana, tapi bertutur tentang “cinta yang tanpa memiliki”. kini ia hinggap tak diundang di telinga pagi hariku.
benarkah ada cinta yang demikian? benarkah? ataukah, itu hanya sebuah ilusi senja akibat hari bersama seseorang tersayang yang tak tergapai? jikalau ada… ya, ya, ya jikalau ada; dan sedemikian kuat… ya sedemikian kuatnya; aku khawatir, siapa pun pasangan yang dihinggapi oleh idealisme ini, tak akan pernah berakhir di pelaminan.
relasi pria-wanita membutuhkan passion untuk menjadikannya bersatu. passion adalah anugerah terindah yang melahirkan posesif dalam proporsinya. yang membuat lelaki melihat bibir orang terkasihnya sedemikian ranum, dan ingin mengecupnya dengan segenap gemetar dan debar jantungnya.
platonis? hmm… tampak indah dibaca oleh mata dan merdu didengar oleh telinga, tapi membuat perjalanan sebuah hati menjadi panjang, seperti matahari tidak pernah kembali ke peraduannya. sungguh melelahkan!
This entry was posted on September 4, 2008 at 7:55 am and is filed under rasa with tags anugerah, bibir, cinta, debar, gemetar, hati, ilusi, mata, matahari, melelahkan, mengecup, merdu, passion, peraduan, platonis, posesif, ranum, senja, tergapai, terindah, terkasih, tersayang. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.