mata kekasih
alangkah indah hidup, alangkah panjang hari, alangkah teduh hati, alangkah jingga senja bila ada hari di mana kudapat menatap matamu. teduh berbinar di bawah alis lentik yang berbaris rata dan hitam. di bola mata itu, adalah samudera biru yang menghanyutkan. tempat kanak-kanak selalu datang untuk berenang sore di sana.
bila badai tiba, itu tempat paling aman untuk berlindung. tempat ku mendapat peluk paling hangat dan menggetarkan, hingga ke rongga tulang. di sana juga tempat paling nyaman bagiku untuk membaringkan tubuh, dibuai oleh desir angin senja.
bila rinai tiba, itu tempat paling melambungkan hati. tempat ku duduk melayang dengan secangkir kopi dan waktu yang tak bergegas. ku dapat menghitung tiap tetes air sambil mengecup wajahmu beribu kali tanpa lelah, tanpa letih…
mata itu, di manakah bisa kujumpai? adakah pemilik mata itu? maukah kau datang padaku untuk kuhadiahkan kecupan paling lembut dan pelukan paling hangat?
This entry was posted on August 30, 2008 at 3:18 am and is filed under rindu with tags angin, badai, berbaring, berbinar, bergegas, biru, buai, desir, hangat, hari, hati, hidup, indah, jingga, kanak-kanak, kecupan, lelah, lentik, letih, mata, melambungkan, melayang, menatap, mengecup, menggetarkan, peluk, pelukan, rinai, samudera, secangkir kopi, senja, teduh, tetes air, tubuh, waktu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.