selamat tinggal…

Posted in gerimis, maut, rasa, rindu, senja on October 17, 2008 by rinaisenja

terlalu sedih untuk dipikir
terlalu pedih untuk diingat
karena itu…

…selamat tinggal senja
…selamat tinggal rinai

mungkin memang semua itu
harus disimpan di dalam hati
diam-diam…
selama-lamanya…

di dadamu

Posted in rindu with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on October 14, 2008 by rinaisenja

bila seorang lelaki harus menangis
di mana tempat teraman baginya?

di dadamu duhai perempuan
kurindu untuk rebah
diselimuti hangat tubuhmu
dibuai detak lembut jantungmu
dilingkari pelukan nyamanmu

di sana aku memejam mata
dan melihat senja jingga menyaput langit
rintik hujan mengiringi senyum termanismu
mengantarkan tibanya mentari esok

tiba

Posted in gerimis with tags , , , on October 9, 2008 by rinaisenja

gerimis telah tiba
menuntaskan rinduku

tetapi kekasih hatiku
di mana dikau bersembunyi?

shelter

Posted in rindu with tags , , , , , , , , , , , , on September 25, 2008 by rinaisenja

aku lelahhh… kurindu padamu, perempuan penuh kasih di mana pun, menghampiriku… mengelus wajahku dengan lembut, mengecup bibirku dengan mesra, dan menghangatkan tubuhku dengan tubuh mungil, putih, dan harumnya.

adakah shelter seperti itu??

Ntahlah, aku lelahhh, bahkan untuk menduga-duganya…

resep senja

Posted in senja with tags , , , , , , , on September 15, 2008 by rinaisenja

resep menikmati senja:

bahan
1 kg otak yang dikosongkan
1/2 tubuh yang dirilekskan
5 hlm bacaan pengantar
1/3 lamunan ’saru’
2 mata yang malas

cara membuat
semua dikocok menjadi satu, disajikan dalam kondisi dingin-segar.

lukisan senja

Posted in senja on September 11, 2008 by rinaisenja

dengan apakah aku hendak melukiskan engkau, kekasih hati? hari serasa pendek, tangan tak pernah menjangkau, ucapan selalu gagap, goresan tinta tak pernah memadai.

dengan senja, sebagai kanvas, tempat kuas hatiku mulai digetarkan, untuk menjemput wewarna, lalu menciumi sekujur tubuhmu. dengan senja, sebagai bahasa, tempat aku bertutur tentang jingga langit pagi esok. dengan senja, sebagai lidah, yang terus mempercakapkan kasih sayangmu.

dengan senja, aku ingin mencari kekasih, menjemput pelukan paling hangat. duhai, di manakah engkau?

pagi

Posted in rasa with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on September 9, 2008 by rinaisenja

dengan apakah engkau memulai pagi?

yang kurindukan adalah sebuah hari dengan mata malu, yang malas untuk dikucek, mendesah panjang dan meringkuk dalam selimut pagi. waktu berhenti, serasa kekal. kabut cahaya masuk bagai rentang kain sutera. tipis dan samar.

lalu ada yang menelusup ke balik selimut. merayap dan memeluk bagai oktopus. hangat. menghadirkan desir debar. terasa beban di dada dan sekujur tubuh. tapi menggetarkan. dan ia lalu mengucapkan selamat pagi dengan menangkup bibirku.

ahh, sebuah impian pagi, yang hanya berkelebat di ujung mata.

platonis

Posted in rasa with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on September 4, 2008 by rinaisenja

tiba-tiba saja aku teringat pada kata platonis. yep, cinta platonis. sebuah kata yang mula-mula muncul entah dari mana, tapi bertutur tentang “cinta yang tanpa memiliki”. kini ia hinggap tak diundang di telinga pagi hariku.

benarkah ada cinta yang demikian? benarkah? ataukah, itu hanya sebuah ilusi senja akibat hari bersama seseorang tersayang yang tak tergapai? jikalau ada… ya, ya, ya jikalau ada; dan sedemikian kuat… ya sedemikian kuatnya; aku khawatir, siapa pun pasangan yang dihinggapi oleh idealisme ini, tak akan pernah berakhir di pelaminan.

relasi pria-wanita membutuhkan passion untuk menjadikannya bersatu. passion adalah anugerah terindah yang melahirkan posesif dalam proporsinya. yang membuat lelaki melihat bibir orang terkasihnya sedemikian ranum, dan ingin mengecupnya dengan segenap gemetar dan debar jantungnya.

platonis? hmm… tampak indah dibaca oleh mata dan merdu didengar oleh telinga, tapi membuat perjalanan sebuah hati menjadi panjang, seperti matahari tidak pernah kembali ke peraduannya. sungguh melelahkan!

mata kekasih

Posted in rindu with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on August 30, 2008 by rinaisenja

alangkah indah hidup, alangkah panjang hari, alangkah teduh hati, alangkah jingga senja bila ada hari di mana kudapat menatap matamu. teduh berbinar di bawah alis lentik yang berbaris rata dan hitam. di bola mata itu, adalah samudera biru yang menghanyutkan. tempat kanak-kanak selalu datang untuk berenang sore di sana.

bila badai tiba, itu tempat paling aman untuk berlindung. tempat ku mendapat peluk paling hangat dan menggetarkan, hingga ke rongga tulang. di sana juga tempat paling nyaman bagiku untuk membaringkan tubuh, dibuai oleh desir angin senja.

bila rinai tiba, itu tempat paling melambungkan hati. tempat ku duduk melayang dengan secangkir kopi dan waktu yang tak bergegas. ku dapat menghitung tiap tetes air sambil mengecup wajahmu beribu kali tanpa lelah, tanpa letih…

mata itu, di manakah bisa kujumpai? adakah pemilik mata itu? maukah kau datang padaku untuk kuhadiahkan kecupan paling lembut dan pelukan paling hangat?

rindu senja

Posted in senja with tags , , , , , , , , , , , , , , , on August 27, 2008 by rinaisenja

aku rindu padamu, senja. hari-hari lewat begitu saja dan bersegera, semakin susah bersua denganmu. orang-orang bergegas, benda-benda bergegas, langit bergegas, bahkan jam pun serasa lari entah dikejar apa.

kapan aku punya senja? duduk menatap kosong dengan pikiran melayang. tak diusir siapa pun dan tak mengejar apa pun. atau, sebuah senja dengan desir angin dan hangat karena lekat dengan seseorang yang kita cintai. bercakap-cakap kecil, berdekap-dekap kecil. membenahi rambutnya yang diterbangkan angin. dan mendekatkan wajahnya untuk mendengarkan deru napasnya yang memburuh perlahan.